Halo guys. See you again ;)
Lookin for the tittle? :p
Ketebak banget ya dengan judul seperti itu ngapain saya malem mingguannya :D
Sebenernya perenungannya udah dari mulai umur 20 tahun sih, cuman… mari kita tulis, catet, olah, simpulkan di malam ini.
Bagi yang mengenal saya via media sosial aka medsos dengan karakter isi tweets saya yang disimpulkan always galau yang padahal sebenernya engga -_-, disini awalnya. Temen-temen mungkin bisa menyimpulkan seperti itu ya karena saya suka banget bahas akan hal-hal seperti itu. Intinya mancing respon sebenernya walau akhirnya responnya diteriakin jangan galau mulu, jangan curhat mulu, dan…. free pukpuk. Hahahaha lucuuuu ♥
Iya. Saya sangat obsesi bahkan bercita-cita dan punya planning hidup berupa mapping life tentang…. nikah muda.
Alasannya sih ini beberapa :
1. Anak tunggal, kasian mama papa cepet-cepet ramein sama cucu yang banyak
2. Menikah dan hidup bersama seorang pendamping itu indah. Macem cinderella dkk
3. Rasanya hidup setelah menikah itu indaaaaah selalu tiada tara bahagia syalalalala
4. Punya orang baru, terpercaya yang selalu bersama untuk selamanya menemani di dunia selain keluarga
5. Ujung-ujungnya hidup ya pasti nikah. Maksudnya siklus seberes sekolah ya apalagi coba? Apalagi notabene sekolah tingkat strata satu dirasa sudah cukup dipemikiran kemayoritasan di negara ini. Ujung-ujungnya? Nikah. S2 s3 mah setelah nikah aja. Nah!
Hahahahaha. Simple kan?
Dan lebih simplenya lagi, saya sangat percaya dibalik peristiwa menjadi ratu sehari, dandan cantik, pesta megah mewah, ucapan doa mengalir, semuanya awal dari kebahagiaan hidup. Saya sangaaaaatttt percaya itu. Basmallah.
Jadi saya ga malu ngakuin bahwa saya ingin nikah muda.
Tapi udah siap apa aja emang buat nikah?
Calon belum ada. HAHAHAHAHA
kedewasaan? Sedang selalu belajar dan intropeksi
Menjadi feminim? Sedang belajar jugaaaaa
Karena istri, wanita seutuhnya dibalik keglobalisasian cetar membahana ini kan… pelayan mulia akan keluarga sakinah mawadah warahmah betul?
Setidaknya saya harus banyak belajar masak, berani gendong bayi, memahami perasaan orang lain, mengotrol emosi egois diri, bersikap lapang, menjaga martabat keluarga, dan memilih seseorang yang mau menerima semampunya saya belajar menuju sebuah kesempurnaan, selalu melangkah menuju kepositifan, untuk sama-sama belajar, mendampingi di dunia dan menjadi supporting untuk kehidupan yang lebih abadi yang rahasia Illahi.
So?
Saya siap nikah muda karena saya mau belajar!
Alhamdulillah udah berubah mikir dari ‘kan belum siap ina ini itu lalalala’, berusaha dan belajar menuju yang orang mainstream pikirkan akan perempuan yang siap menikah. Allah pasti selalu mendukung hambaNya yang melangkah atas tujuan yang mulia bukan? ;)
Hehehe
Hahaha
Kedewasaan itu katanya proses pembelajaran.
So do i.